Senin, 25 April 2016

Teori Lasswell



Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah kepada kita semua, sehingga berkat karunianyalah penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, terutama kepada dosen pembimbing yang telah memberikan bantuannya sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Pada makalah ini penulis menjelaskan tentang “Model Komunikasi Teori Harload Lasswell”
Penulis menyadari bahwa makalah jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran dari dosen pembimbing dan semua pihak yang sifatnya membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan demi perbaikan makalah penulis di masa yang akan datang.












SEJARAH
Harload Laswell
Model ini berupa ugkapan verbal, yakni : who, say what, in which chanel, to whom, with what effect ?  Model ini dikemukakan Harload Laswell pada tahun 1948 yang menggambarkan proses konikasi dan fungsi-fungsi yg di emban oleh masyarakat.
Harload Laswell mengemukakan Tiga tahap, yakni :
1)      Pengawasan lingkungan yang  mengingatkan anggota-anggota masyarakat akan bahaya dan peluang dalam lingkunagan.
2)      Korelasi bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon.
3)      Tranmisi warisan sosial dari satu generasi ke generasi lainnya.
Inilah Tiga kelompok sepesialis yang bertanggung jawab :
1)      Pemimpin politik dan diplomatik, termasuk ke kelompok pengawas lingkungan.
2)      Pendidikan, rohasli dan pencermah , membantu mengkorelasikan/ mengumpulkan respon orang-orang terhadap informasi baru.
3)      Anggota keluarga dan pendidikan sekolah, mengalihkan warisan sosial.
Model Harload Laswell sering diterapkan dalam komunikasi masa, unsur dan sumber :
·         Who : merangsang pengendalian pesan. Sumber/komunikator adalah pelaku utama/pihak yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi atau yang memulai suatu komunikasi,bisa seorang individu,kelompok,organisasi,maupun suatu negara sebagai komunikator.
·         Say what : merupakan bahan untuk analisis isi. Apa yang akan disampaikan/dikomunikasikan kepada penerima(komunikan),dari sumber(komunikator)atau isi informasi.Merupakan seperangkat symbol verbal/non verbal yang mewakili perasaan,nilai,gagasan/maksud sumber tadi. Ada 3 komponen pesan yaitu makna,symbol untuk menyampaikan makna,dan bentuk/organisasi pesan.
·         In which chanel : saluran komunikasi dikaji dalam analisis media. Wahana/alat untuk menyampaikan pesan dari komunikator(sumber) kepada komunikan(penerima) baik secara langsung(tatap muka),maupun tidak langsung(melalui media cetak/elektronik dll). Orang/kelompok/organisasi/suatu negara yang menerima pesan dari sumber.Disebut tujuan(destination)/pendengar(listener)/khalayak(audience)/komunikan/penafsir/penyandi balik(decoder).
·         With what effect : unsur pengaruh berhubungan dengan studi menegenai akibat yang ditimbulkan pesan kamunikasi massa pada khalayak, pembaca, pendengar/audiens. Dampak/efek yang terjadi pada komunikan(penerima) setelah menerima pesan dari sumber,seperti perubahan sikap,bertambahnya pengetahuan, dll.

Kelebihan dari model Lasswell'
  1. -          Mudah dan simple
  2. -          Cocok untuk semua tipe komunikasi
  3. -          Konsep efeknya jelas

Kekurangan dari model Lasswell
  1. -          Feed back tidak disebutkan
  2. -          Pesan yang ditujukan tidak tentu jelas arahnya
  3. -          Linear Model
GAMBAR TEORI LASSWELL
Model komuniaksi dari Laswell  menyangkut lima pernyataan sederhana : siapa, mengatakan apa, melalui apa, kepada siapa dan dengan akibat apa. ,odel komunikasi yang mem buat, Gerbner hampir sama bentuknya dengan model Laswell. Tapi prosesnya lebih komoleks karena melibatkan sebelas (11) elemen komunikasi.
IN WHICH CHANNEL
 

WHO
 

SAY WHAT
 
  











WITH WHAT EFFECT
 



TO WHOM
 




  




Contoh : Komunikasi antar guru dan muridnya. Guru sebagai komunikator harus memiliki pesan yang jelas yang akan disampaikan kepada murid atau komunikan.Setelah itu guru juga harus menentukan saluran untuk berkomunikasi baik secara langsung(tatap muka) atau tidak langsung(media).Setelah itu guru harus menyesuaikan topic/diri/tema yang sesuai dengan umur si komunikan,juga harus menentukan tujuan komunikasi/maksud dari pesan agar terjadi dampak/effect pada diri komunikan sesuai dengan yang diinginkan.


RUANG LINGKUP
Harload Lasswell
Ruang lingkup dari teori Lasswell adalah berada di lingkungan anggota-anggota masyarakat atau nisa juga masuk dalam kamunikasi massa.
Komunikasi adalah pesan yang disampaikan kepada komunikan (penerima) dari komunikator (sumber) melalui saluran-saluran tertentu baik secara langsung/tidak langsung dengan maksud memberikan dampak/effect kepada komunikan sesuai dengan yang diingikan komunikator. Yang memenuhi 5 unsur who, says what, in which channel, to whom, with what effect.
Berikut adalah teori Harload Lasswell dalam kedupan masyarakat :
·   Kementrian Perpajakan mengiklankan progam wajib pajak melalui Televisi yang ditujukan kepada masyarakat indonesia agar dapat menggugah masyarakat sadar akan kewajibanya membayar pajak.
·   Seorang calon presiden (siapa), berbicara mengenai perubahan yang harus dilakukan pemimpin negara  untuk kemajuan bangsa (apa), melalui kampanye yang disiarkan di televise (saluran), kepada khalayak atau masyarakat (kepada siapa) dengan pengaruh yang terjadi khalayak mendapat kesan terhadap calon presiden itu untuk memilih  atau tidak memilihnya (effect).


REFRENSI :
·      Ilmu Komunikasi, Prof. Deddy Mulyana, MA, Ph.D
·      Pengantar Komunikasi Massa, Nurdin M.Si
·      Pengantar Ilmu Komunikasi, Prof.Dr.Hafield Cangara

RUANG LINGKUP, PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI

RUANG LINGKUP, PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI



RUANG LINGKUP, PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI

            Istilah komunikasi kian hari kian populernya sampai muncul berbagai macam istilah komunikasi. Ada komunikasi timbal balik, ada komunikasi tatap muka, ada komunikasi langsung, komunikasi tidak langsung, komunikasi vertical, komunikasi horizontal, komunikasi dua arah dan lain sebagainya.
Apa pun istilahnya bila kita tetap berpijak pada obyek formal ilmu komunikasi dan memahami ruang lingkupnya, maka semua istilah itu dapat diberi pengertian secara jelas dan dapat dibedakan menurut karakteristiknya masing-masing.

Ruang Lingkup
            Komunikasi yang kita maksudkan disini bukan komunikasi listrik (engineeri), bukan komunikasi floraatau anatomi tubuh (cell communication), bukan komunikasi antarhewan (animal communication), melainkan komunikasi insani (human communication) atau bias disebut komunikasi antarmanusia. Suatu bentuk komunikasi yang dilakukan oleh manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang menjadi kajian ilmu sosial atau ilmu kemasyarakatan .
            Dalam ruang lingkup yang lebih terperinci komunikasi yang menggambarkan bagaimana seorang menyampaikan sesuatu lewat bahasa atau symbol-simbol tertentu kepada orang lain. Dimana manusia sebagai pelaku utamanya, baik berlangsung secara tatap muka mapun melalui media. Karena itu disebut komunikasi insani (human communication) atau lebih populer dengan nama komunikasi antarmanusia.




Pengertian Komunikasi
            Banyak sarjana yang tertarik  untuk mempelajari ilmu komunikasi dan mereka telah melahirkan berbagai macam defenisi yang bisa membingungkan jika tidak memahami hakikat komunikasi antarmanusia yang sebenarnya.
            Istilah komunikasi berpangkal pada perkataan Latin Comunis yang artinya membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Komunikasi juga berasal dari akar kata dalam bahasa Latin Communico yang artinya membagi (Cherry dalam Stuart, 1983).
Sebuah definisi singkat dibuat oleh Harold D. Lasswell bahwa cara yang tepat untuk menerangkan suatu tindakan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada siapa dan apa pengaruhnya.”
Lain halnya dengan Steven, justru ia mengajukan defenisi yang lebih luas, bahwa komunikasi terjadi kapan saja suatu oragnisme memberi reaksi terhadap suatu obyek atau stimuli. Apakah itu berasal dari seseorang atau lingkungan sekitarnya. Misalnya seorang berlindung pada suatu tempat karena diserang badai, atau kedipan mata sebagai reaksi terhadap sinar lampu, juga adalah peristiwa komunikasi.
Sebuah definisi yang dibuat oleh kelompok sarjana komunikasi yang mengkhususkan diri pada studi komunikasi antarmanusia bahwa:
“Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengaturlingkungannya dengan (1) membangun hubungan antarsesama manusia (2) melalui pertukaran informasi (3) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain (4) serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu.”(Book, 1980).
            Everett M. Rogers seorang pakar Sosiologi pedesaan Amerika yang telah banyak memberi perhatian pada studi riset komunikasi, khusunya dalam hal penyebaran inovasi membuat definisi bahwa:
“Komunikasi ialah suatu proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.”
Definisi ini kemudian dikembangkan oleh Rogers bersama D, Lawrence Kincaid (1981) sehingga melahirkan suatu definisi baru yang menyatakan bahwa:
“Komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang dalam.”
Definisi-definisi yang dikemukankan di atas tentunya bulum mewakili semua definisi tentang komunikasi yang telah dibuat oleh bayak pakar, namun sedikit banyaknya kita telah dapat memperoleh gambaran oleh apa yang diungkapkan oleh Shannon dan Weaver (1949) bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi, manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasimengunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi.

Prinsip Komunikasi
            Kita dapat menarik tiga prinsip dasar komunikasi, yakni:
1.      Komunikasi hanya bisa terjadi bila terdapat pertukaran pengalaman yang sama antara pihak-pihak yang terlibat dalam proses komunikasi (sharing similar experiences).
2.      Jika daerah tumpang tindih (the fieid of experiences) menyebar menutupi lingkaran A atau B, menuju  terbentuknya satu lingkaran yang sama, maka makin besar kemungkinannya tercipta suatu proses komunikasi yang mengena (efektif)
3.      Tetapi kalau daerah tumpang tindih ini makin mengecil dan menjauhi sentuhan kedua lingkaran, atau cenderung mengisolasi lingkaran mansing-masing, maka komunikasi yang terjadi sangat terbatas. Bahkan besar kemungkinannya gagal dalam menciptakan suatu proses komunikasi yang efektif.

Unsur-Unsur Komunikasi
            Dari pengertian komunikasi yang yang telah dikemukakan, maka jelas bahwa komunikasi antarmanusia hanya bisa terjadi, jika ada seorang yang menyampaikan pesan kepada orang lain dengan tujuan tertentu.
            Aristoteles ahli filsafat Yunani Kuno dalam bukunya Rhetorica menyebut bahwa suatu proses komunikasi memerlukantiga unsure yang mendukungnya, yakni siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan, dan siapa yang mendengarkan. Hal ini dimengerti, karena  pada zaman Aristoteles retorika menjadi bentuk komunikasi yang sangat popular bagi masyarakat Yunani.
            Claude E. Shannon dan Warren Weaver (1949), dua orang insiyur listrik menyatakan bahwa terjadinya proses komunikasi memerlukan lima unsur yang mendukungnya, yakni pengirim, transmitter, signal, penerima dan tujuan. (mengenai pengiriman pesan melalui radio dan telepon. Tetapi para sarjana yang muncul di belakangnya mencoba menerapkannya dalam proses komunikasi antarmanusia seperti yang dilakukan oleh Miller dan Cherry (Schram; 1971).
            Awal tahun 1960-an David K. Berlo membuat formula komunikasi yang lebih sederhana. Formula itu dikenal dengan nama “SMCR”, yakni: Source (pengirim), Massage (pesan), Channel (saluran-media) dan Receiver (penerima). Selain Shannon dan Berlo, juga tercatat Charles Osgood, Gerald Miller dan Melvin L. de Fleur menambah lagi unsure efek dan umpan balik (feedback) sebagai pelengkap dalam membangun komunikasi yang sempurna.
            Perkembangan terakhir adalah munculnya pandangan dari Joseph de Vito, K. Sereno dan Enka Vora yang menilai factor lingkungan merupakan unsur yang tidak kalah pentingnya dalam mendukung terjadinya proses komunikasi.

TIPE KOMUNIKASI
            Joseph A DeVito seorang profesor komunikasi di Citi University of  New York dalam bukunya Communicology (1982) membagi komunikasi menjadi empat macam, yakni komunikasi Antarpribadi, Komunikasi Kelompok Kecil, Komunikasi Publik dan Komunikasi Massa.
            R. Wayne Pace dengan teman-temannya dari Brigham Young University dalam bukunya Techniques for effective communication (1979) membagi komunikasi atas tiga tipe, yakni komunikasi dengan diri sendiri, komunikasi antarpribadi dan komunikasi khalayak.
            Beberapa sarjana komunikasi aliran Eropa hanya membagi komunikasi atas dua macam. Yakni Komunikasi Antarpribadi dan Komunikasi Massa. Di Indonesia ada kalangan yang membagi komunikasi atas dua macam, yakni komunikasi massa dan komunikasi sosial.
            Memperhatikan pandangan para paka di atas, maka tipe komunikasi yang akan dibicarakan dalam buku ini dibagi atas empat macam tipe, yakni Komunikasi dengan diri sendiri, Komunikasi Antarpribadi, Komunikasi Public dan Komunikasi Massa.

Komunikasi dengan diri sendiri(Intra Personal Communication)
            Komunikasi dengan diri sendiri adalah proses komunikasi yang terjadi di dalam diri individu, atau dengan kata lain proses berkomunikasi dengan diri sendiri.
Dalam proses pengambilan keputusan, seringkali seseorang dihadapkan  pada pilihan ya atau tidak. Keadaan semacam ini membawa seseorang pada situasi berkomunikasi dengan diri sendiri, terutama dalam mempertimbangkan untung ruginya suatu keputusan yang akan diambil. Cara ini hanya bisa dilakukan dengan metode komunikasi intra personal atau komunikasi dengan diri sendiri.
            Studi tentang komunikasi dalam diri sendiri (intra personal communication) kurang begitu banyak mendapat perhatian, kecuali dari kalangan yang brminat dalam bidang psikologi behavioritik. Karena itu literature yang membicarakan tentang komunikasi intra personal bisa dikatakan sangat langkah ditemukan.

Komunikasi Antarpribadi (Inter personal Communication)
            Komunikasi antarpribadi yang dimaksud disini adalah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka, seperti yang dinyatakan R. Wayne Pace (1979) bahwa “Inter personal communication is communication involving two or more people in a face to face  setting” menurut sifatnya komunikasi antarpribadi  dapat dibedakan atas dua macam, yakni komunikasi Diadik (Dyadic Communication) dan komunikasi kelompok kecil (Small Group Communication).
            Komunikasi Diadik ialah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang dalam situasi tatap muka. Komunikasi Diadik menurut Pace dapat dilakukan dalam tiga bentuk, yakni percakapan, dialog dan wawancara. Percakapan berlangsung dalam suasana yang bersahabat dan informal. Dialog berlangsung dalam situasi yang lebih intim, lebih dalam dan lebih personal, sedangkan wawancara sifatnya lebih serius, yakni adanya pihak yang dominan pada posisi bertanya dan yang lainnya  pada posisi menjawab.
            Komunikasi kelompok kecil ialah proses komunikasi yang berlangsung antara  tiga orang  atau lebih secara tatap muka, dimana anggota-anggotanya saling berinteraksi satu sama lainnya. Tidak ada batas yang menentukan secara tegas berepa besar jumlah anggota suatu kelompok kecil. Biasanya antar dua sampai tiga orang, bahkan ada yang mengembangkan sampai dua puluh samapi tiga puluh orang, tetapi tidak lebih dari lima puluh orang.
            Menurut Everett M. Rogers, proses komunikasi yang menggunakan telepon kurang kena bila digolongkan sebagai komunikasi masssa atau komunikasi antar pribadi. Tetapi sarjana komunikasi Amerika lainnya Mc-Croskey memasukkan peralatan komunikasi yang menggunakan gelombang  udara dan cahaya seperti halnya telepon sebagai saluran komunikasi antar pribadi.
            Sebb itu muncullah kelompok yang lebih senang memkai istilah komunikasi antar pribadi beralat ( memakai media mekanik ) dan komunikasi antar pribadi yang tidak beralat ( berlangsung secara tatap muka ).

Komunikasi Publik ( Public Comunication )
            Komunikasi Publik biasa disebut komunikasi pidato, komunikasi kolektif, komunikasi retorika, public speaking dan komunikasi khayalak ( Audience communication).
Dalam komunikasi publik penyampaian pesan berlangsung secara kontinu. Dapat didefenisikan siapa yang berbicara ( sumber ) dan siapa pendengarnya. Interaksi antara sumber dan penerima sangat terbatas, sehingga tanggapan balik juga terbatas. Hal ini disebabkan karena waktu yang digunakan sangat terbatas, dan jumlah khayalak relative banyak. Sumber seringkali tidak dapat mengidentifikasi satu persatu pendengar. Tipe komunikasi public biasanya ditemui dalam berbagai aktifitas seperti kuliah umum, khotbah, rapat akbar, penghargaan, ceramah, dan semacamnya.



Komunikasi Massa ( Mass Communication )
            Terdapat berbagai macam pendapat tentang pengertian komunikasi masssa. Ada yang menilai segmen khayalaknya, dari segi medianya, dan ada pula dari sifat pesannya. Komunikasi Massa dapat didefenisikan sebagi berikut sebagai proses komunikasi yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khayalak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat mekanik seperti radio, televise, surat kabar dan film.
            Pesan komunikasi masssa berlangsung satu arah dan tanggapan baliknya lambat (tertunda) dan sangat terbatas. Tetapi dengan perkembangan teknologi komunikasi yang begitu cepat, khususnya media masssa elektronik seperti radio dan televisi maka umpan balik dari khayalak dapat dilakukan dengan cepat kepada penyiar. Selain itu, sifat penyebaran pesan melalui media massa berlangsung begitu cepat, serempak dan luas. Ia mampu mengatasi jarak dan waktu, serta tahan lama bila didokumentasikan.

Paradigma dalam Sosiologi

Paradigma dalam Sosiologi

Sebuah paradigma merupakan gambaran dasar dari pokok perhatian dalam sebuah ilmu. Paradigma adalah konsensus yang terluas di dalam sebuah ilmu dan berfungsi untuk membedakan sebuah komunitas ilmiah dari yang lain. Lebih lanjut, George Ritzer memaparkan beberapa fungsi paradigma, yakni; mendefinisikan apa yang harus dikaji, pertanyaan apa yang harus ditanyakan, bagaimana untuk menanyakannya, kaidah-kaidah apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang didapatkan. (Ritzer, 2012: 1151) Paradigma mencakup elemen-elemen penting yang membangunnya. Elemen termaksud ialah; teori, subject matter, metode, dan eksemplar. Teori meliputi konsep, variabel, dan proposisi. Subject matter adalah apa yang dikaji dalam ilmu tersebut. Metode adalah cara pengkajian, termasuk instrumen di dalamnya. Kemudian eksemplar adalah karya ilmiah yang menjadi model.



Sejarah suatu ilmu pengetahuan adalah sejarah bangun dan jatuhnya paradigma-paradigma. Untuk suatu masa mungkin hanya satu paradigma yang menonjol, dan setiap gagasan yang mengancamnya akan disingkirkan dari pusat panggung. (Jones, 2009: 208) Thomas Kuhn mengatakan dalam kondisi tersebut ada suatu paradigma dominan, yang kemudian mendogma. Khusus bagi sosiologi, ada pembeda yang signifikan dari bidang ilmu lain. Lazim dikenal bahwa sosiologi adalah ilmu berparadigma ganda atau multiple paradigm science. Dikarenakan kelahiran suatu paradigma tak lantas meruntuhkan paradigma pendahulunya. Jonathan Turner dan Doyle Johnson, mengategorikan sosiologi kontemporer menjadi fungsionalisme, interaksionisme simbolik, pertukaran sosial, dan konflik. Namun George Ritzer, yang berlandaskan pada konsep paradigma yang dirumuskan Thomas Kuhn, melihat bahwa sosiologi kontemporer terdiri dari paradigma perilaku sosial, definisi sosial, dan fakta sosial. (Samuel, 2012: 92)


Setiap paradigma memiliki dedengkotnya tersendiri. Paradigma fakta sosial dibangun oleh sosiolog Prancis, Emile Durkheim. Paradigma definisi sosial dirintis oleh Max Weber, sosiolog kenamaan dari Jerman. Paradigma perilaku sosial dikembangkan oleh Burrhus Frederic Skinner. Sebenarnya ada sedikit masalah yang berbau politis dalam kategorisasi ini. Dunia mengakui tiga raksasa sosiologi atau tiga sosok pembangun fondasi sosiologi adalah Emile Durkheim, Max Weber dan Karl Marx. Namun dalam kategorisasi Ritzer, Karl Marx dikesampingkan dan justru tempatnya diberikan untuk Skinner. Memang cukup wajar mengingat Ritzer adalah sosiolog asal Amerika Serikat yang memiliki komitmen kontra-komunisme, entah otentik atau karena ada tekanan dari kurikulum negara itu. Kendati demikian, pengkaji sosiologi harus tetap prihatin akan hal ini.



Mari mengesampingkan sejenak diskriminasi politis terhadap Karl Marx, untuk menyepakati kategorisasi Ritzer. Berikut ini dipaparkan elemen-elemen yang membentuk tiga paradigma besar dalam sosiologi. Paradigma fakta sosial, teori-teori yang berada di lingkup tersebut adalah teori fungsionalisme struktural, teori konflik dan teori sistem. Subject matter dalam paradigma tersebut adalah fakta sosial atau yang dimaksud Durkheim dengan struktur dan institusi sosial yang berskala besar. Metode yang dipakai lebih kepada perbandingan sejarah atau bisa juga dengan kuesioner wawancara. Eksemplar paradigma tersebut tentu saja karya-karya Durkheim, khususnya The Rules of Sociological Method dan Suicide.


Paradigma definisi sosial meliputi teori-teori termasyhur semacam teori tindakan, interaksionisme simbolis, fenomenologi, etnometodologi, dan bahkan eksistensialisme. Paradigma ini memusatkan perhatian pada cara para aktor sosial mendefinisikan situasi sosial mereka dan efek dari definisi tersebut pada tindakan atau interaksi setelahnya. Metode yang lazim dipakai oleh definisionis sosial adalah observasi atau pengamatan, kendati mereka juga sangat mungkin untuk menggunakan kuesioner dan wawancara. Eksemplar utama paradigma ini adalah karya-karya Max Weber.


Paradigma perilaku sosial teorinya dapat dicakup ke dalam behaviorisme sosial. Pertama adalah sosiologi behavioral yang sangat dekat hubungannya dengan behaviorisme psikologi. Kedua adalah yang jauh lebih penting, yakni teori pertukaran sosial. Pokok perhatian sosiologi bagi behavioris sosial adalah perilaku spontan (tanpa pikir panjang) para individu. Namun secara khusus behavioris sosial memperhatikan penghargaan yang menghasilkan perilaku yang diinginkan serta hukuman yang mencegah perilaku spontan. Keduanya merupakan topik khas yang dapat dikaji dalam teori pertukaran. Metode yang umum digunakan dan pada akhirnya menjadi metode khas behaviorisme sosial adalah eksperimen. Eksemplar paradigma perilaku sosial tentu saja karya-karya psikolog ternama, B.F. Skinner. 


Paradigma Fakta Sosial
Paradigma fakta sosial pada dasarnya sejalan dengan organisisme sosial, yang menganggap bahwa masyarakat atau kelompok masyarakat ibarat satu tubuh. Dalam satu tubuh, sel yang satu dengan sel yang lain saling melengkapi adanya, kendati memiliki peran yang beragam. Pendekatan organis yang masih terlalu filosofis tersebut, diteoretiskan dalam fungsionalisme struktural. Ide pokok kaum fungsionalis strukturalis ialah bahwa kelompok sosial merupakan suatu sistem yang diikat oleh konsensus. Di dalam setiap sistem pun senantiasa terjadi konflik. Bahkan dalam perspektif Dahrendorf, sistem justru lahan utama bagi konflik. Setiap individu atau kelompok yang tidak terhubung dalam sistem tidak akan mungkin terlibat dalam konflik. (Susan, 2009: 49) Begitu pula dalam keluarga, yang merupakan suatu sistem dengan ciri khasnya berupa pola dan konsensus. Setiap keluarga memiliki pola tersendiri dan konsensus yang berbeda dari keluarga lainnya. Kendati demikian kedua elemen termaksud tetap harus ada sebagai fondasi sistem. Sepakat pula dengan Ralf Dahrendorf bahwa setiap sistem, dalam hal ini keluarga, selalu terjadi konflik di dalamnya. Resolusinya adalah dengan menganalisa peran tiap anggota, kemudian membentuk konsensus baru. 


Paradigma Definisi Sosial
Salah satu perbedaan paradigma definisi sosial dengan pendahulunya, paradigma fakta sosial, ialah pengakuannya terhadap pemahaman subjektif dari individu. Keberadaan fakta sosial independen terhadap individu dan tidak dapat direduksi menjadi fakta-fakta individual. (Samuel, 2010: 21) Sedangkan dalam paradigma definisi sosial, bukan tidak mungkin individu membentuk sosial, melalui dialektika Peter L. Berger misalnya (internalisasi, eksternalisasi, dan objektivasi). Ketika terjadi konflik dalam keluarga, solusinya bukan dengan membentuk konsensus, namun dengan menganalisa pemahaman subjektif tiap anggota. Suatu konflik seringkali disebabkan oleh kesalahpahaman karena kurangnya pengertian akan pemahaman subjektif. Alfred Schultz mengatakan bahwa setiap individu punya stok pengetahuan, dan setiap mereka pun menyadari bahwa individu lain juga memiliki. Kendati demikian sering terjadi semacam keengganan atau kesulitan dalam membaca stok pengetahuan orang lain. Inilah yang menjadi masalah, dan untuk solusinya tinggal menjembatani stok pengetahuan individu agar kemudian mampu dimaknai oleh individu yang lain. Pemaknaan semacam ini lebih mudah dalam membaca tindakan rasional ketimbang tindakan afektif. 


Paradigma Perilaku Sosial
Analisis memakai paradigma perilaku sosial, artinya lebih menyorot pola perilaku masing-masing anggota keluarga. Memakai teori pertukaran, secara sederhana tindakan positif mendapat ganjaran yang positif pula. Tidak mutlak memang, namun harus diakui bahwa lazimnya memang seperti itu. Jikalau ada konflik dalam keluarga, merujuk teori pertukaran, artinya ada tindakan negatif yang dibalas dengan tindakan negatif. Ketika hanya ada satu pihak yang merilis tindakan negatif, itu bukan konflik, melainkan hanya kekerasan. Konflik terjadi manakala ada dua pihak yang saling menyerang. Bila konflik masih sekadar gejala, perlu sesegera mungkin membenahi tindakan menjadi lebih positif. Namun jika konflik terlanjur terjadi, tidak ada pilihan lain untuk melakukan mediasi atau arbitrase, dalam kondisi seperti ini diperlukan peran orang ketiga.


REFERENSI:
Jones, Pip. 2009. Pengantar Teori-Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Samuel, Hanneman. 2010. Emile Durkheim: Riwayat, Pemikiran, dan Warisan Bapak Sosiologi Modern. Depok: Kepik
Samuel, Hanneman. 2012. Peter Berger:Sebuah Pengantar Ringkas. Depok: Kepik
Susan, Novri. 2009. Sosiologi Konflik & Isu-Isu Kontemporer. Jakarta: Kencana


Sabtu, 26 Maret 2016

Pengertian Statistik

Statistik iyalah sekumpulan angka untuk menerangkan sesuatu , baik angka yang masih acak(belum tersusun) maupun angka yang sudah tersusun dalam suatu daftar ataupun grafik.

kata Statistik berasal dari bahasa latin , yaitu “status” yang berarti negara atau hal-hal yang berhubungan dengan ketatatnegaraan.

Statistik merupakan salah satu ilmu yang sangat penting untuk dipelajari agar dapat memudahkan seseorang dalam membuat suatu penelitian, observasi ataupun riset yang berbentuk angka, mulai dari pengumpulan data, pengolahan data, analisis data,  hingga penyajian data yang akhir tujuannya ialah penarikan kesimpulan.

Statistik memang tergolong rumit bagi yang belum memahami bagaimana cara penggunaannya. Oleh karenanya, didalam perguruan tinggi biasanya ada mata kuliah statistik, yang sangat berguna dalam melaksanakan tugas akhirnya. Untuk itu perlu diketahui terlebih dahulu tentang apa itu statistik?. Dalam kesempatan ini, seputarpengetahuan.com akan membahas tentang pengertian-pengertian statistik menurut para ahli. Berikut penjelasannya.

Pengertian Statistik
Ada beberapa ilmuan yang menjelaskan tentang pengertian-pengertian statistik. Diantaranya yaitu:


Statistik (umum)

Statistik iyalah sekumpulan cara serta aturan tentang pengumpulan , penganalisaan , pengolahan serta penafsiran data yang terdiri dari angka-angka.

Statistik juga iyalah sekumpulan angka yang menjelaskan sifat-sifat data ataupun hasil dari pengamatan.
Berikut Pengertian Statistik dari Para Ahli.

Croxton dan Cowden.

“Statistik iyalah metode untuk mengumpulkan, mengelola serta menyajikan, dan menginterpretasikan data yang berwujud angka-angka”

Anderson Dan Bancroft.

“Statistik  Iyalah ilmu dan seni perkembangan serta metode paling efektif untuk pengumpulkan, pentabulasian serta  dan penginterpretasikan data kuantitatif sedemikian rupa, sehingga akan memungkin kesalahan dalam kesimpulan dan estimasi dapat diperkirakan dengan penggunaan penalaran induktif yang didasarkan pada matematik probailitas(peluang)”

Prof. Dr. Sudjana, M.A., M.Sc.,

“Statistik adalah pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan data, pengolahan penganalisisannya, serta penarikan kesimpulan berdasarkan kumpulan data dan penganalisasan yang dilakukan”

 Mereka mengungkapkan statistik sebagai ilmu & seni perkembangan juga metode yang paling tepat dan efektif dalam pengumpulan, mentabulasikan dan menginterprestasikan data-data kuantitatif.



Steel dan Torrie.

“Statistik adalah metode yang memberikan cara cara untuk menilai ketidaktentuan dari penarikan kesimpulan yang bersifat induktif”

J.Supranto.

memberikan 2 arti statistik iyalah :
Dalam arti sempit
“Statistik adalah data ringkasan yang berbentuk (kuantitatif).
Dalam arti luas
“Statistik adalah ilmu yang mempejari cara pengumpulan , penyajian , serta analisa data , dan pengambilan kesimpulan secara umum berdasarkan hasil dari penelitian yang menyeluruh”

Drs. Djawanto.
“Statistik iyalah kumpulan angka-angka yang berhubungan dengan atau melukiskan suatu persoalan”



Modenhall

Statistik merupakan salah satu bidang sains yang berhubungan dengan ekstrasi informasi dari sebuah data numerik dan digunakan untuk membuat keputusan dari suatu populasi darimana data itu didapatkan.

Kendal & Stuart

Statistik merupakan cabang dari metode ilmiah yang berkaitan dengan pengumpulan data yang dikumpulkan dengan mengukur sifat-sifat dari populasi yang ditemukan.


Asher

Menurutnya statistik itu berkaitan dengan suatu langkah atau metode dalam menarik sebuah kesimpulan dari hasil uji coba.

Mood, Graybill & Boes

Mereka mengemukakan bahwa statistik merupakan suatu teknologi dari salah satu metode ilmiah dan berkaitan dengan percobaan, penyelidikan dan penarikan kesimpulan.


Stoel Torrie

Mengungkapkan statistik sebagai cara atau metode yang memberikan langkah-langkah guna untuk menilai ketidakpastian dari sebuah kesimpulan yang sifatnya induktif.

Marguerrite F. Hall

Statistik merupakan suatu teknik yang digunakan dalam pengumpulan data, menganalisa, menyimpulkan dan mengadakan penafsiran data dalam bentuk angka.

Freund & Walpole

Menjelaskan statistik sebagai salah satu sains dalam pengambilan suatu keputusan yang belum pasti.

Sudjana

Menyimpulkan statistik sebagai suatu pengetahuan yang berkaitan dengan teknik-teknik atau cara-cara pengumpulan data, pengolahan, penganalisaan, penarikan kesimpulan, penyajian data dan publikasi dari data-data dalam bentuk angka.

Sugiyono

Menurutnya, statistik dalam arti sempit ialah sebagai data dan alat. Secara luas, statistik merupakan suatu alat dalam menganalisis dan mengambil sebuah keputusan.

Prof. DRS. Sutrisno Hadi, MA

Mengemukakan statistik sebagai salah satu cara untuk mengolah data & menarik sebuah kesimpulan serta keputusan yang logis dari sebiah pengolahan data.


Prof. DR. Agus Irianto

Menjelaskan statistik sebagai sekumpulan cara yang berhubungan dengan pengumpulan data, analisis data, penarikan kesimpulan dari data-data yang berbentuk angka dengan menggunakan asumsi tertentu.

Suntoyo Yitnosumarto

Mengemukakan statistik sebagai sebuah informasi yang menggunakan metodologi & cara-cara perhitungan dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan praktis yang muncul.

Ir. M. Iqbal Hasan, MM

Mengemukakan statistik sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk data yakni tentang tatacara pengumpulan data, pengolahan data, penganalisaan, penafsiran dan penarikan kesimpulan dari suatu data dalam bentuk angka-angka.

Nah itulah beberapa pakar yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian statistik. Kesimpulannya ialah: Statistik merupakan kumpulan data-data berbentuk angka maupun bukan angka yang dapat disusun dengan menggunakan tabel atau diagram yang menggambarkan suatu masalah yang dikaji. Dan biasanya data-data yang disajikan itu berkaitan dengan dengan keadaan tertentu yang juga dilengkapi dengan keterangan untuk memperjelas suatu permasalahan tersebut.