Senin, 25 April 2016

RUANG LINGKUP, PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI

RUANG LINGKUP, PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI



RUANG LINGKUP, PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI

            Istilah komunikasi kian hari kian populernya sampai muncul berbagai macam istilah komunikasi. Ada komunikasi timbal balik, ada komunikasi tatap muka, ada komunikasi langsung, komunikasi tidak langsung, komunikasi vertical, komunikasi horizontal, komunikasi dua arah dan lain sebagainya.
Apa pun istilahnya bila kita tetap berpijak pada obyek formal ilmu komunikasi dan memahami ruang lingkupnya, maka semua istilah itu dapat diberi pengertian secara jelas dan dapat dibedakan menurut karakteristiknya masing-masing.

Ruang Lingkup
            Komunikasi yang kita maksudkan disini bukan komunikasi listrik (engineeri), bukan komunikasi floraatau anatomi tubuh (cell communication), bukan komunikasi antarhewan (animal communication), melainkan komunikasi insani (human communication) atau bias disebut komunikasi antarmanusia. Suatu bentuk komunikasi yang dilakukan oleh manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang menjadi kajian ilmu sosial atau ilmu kemasyarakatan .
            Dalam ruang lingkup yang lebih terperinci komunikasi yang menggambarkan bagaimana seorang menyampaikan sesuatu lewat bahasa atau symbol-simbol tertentu kepada orang lain. Dimana manusia sebagai pelaku utamanya, baik berlangsung secara tatap muka mapun melalui media. Karena itu disebut komunikasi insani (human communication) atau lebih populer dengan nama komunikasi antarmanusia.




Pengertian Komunikasi
            Banyak sarjana yang tertarik  untuk mempelajari ilmu komunikasi dan mereka telah melahirkan berbagai macam defenisi yang bisa membingungkan jika tidak memahami hakikat komunikasi antarmanusia yang sebenarnya.
            Istilah komunikasi berpangkal pada perkataan Latin Comunis yang artinya membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Komunikasi juga berasal dari akar kata dalam bahasa Latin Communico yang artinya membagi (Cherry dalam Stuart, 1983).
Sebuah definisi singkat dibuat oleh Harold D. Lasswell bahwa cara yang tepat untuk menerangkan suatu tindakan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada siapa dan apa pengaruhnya.”
Lain halnya dengan Steven, justru ia mengajukan defenisi yang lebih luas, bahwa komunikasi terjadi kapan saja suatu oragnisme memberi reaksi terhadap suatu obyek atau stimuli. Apakah itu berasal dari seseorang atau lingkungan sekitarnya. Misalnya seorang berlindung pada suatu tempat karena diserang badai, atau kedipan mata sebagai reaksi terhadap sinar lampu, juga adalah peristiwa komunikasi.
Sebuah definisi yang dibuat oleh kelompok sarjana komunikasi yang mengkhususkan diri pada studi komunikasi antarmanusia bahwa:
“Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengaturlingkungannya dengan (1) membangun hubungan antarsesama manusia (2) melalui pertukaran informasi (3) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain (4) serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu.”(Book, 1980).
            Everett M. Rogers seorang pakar Sosiologi pedesaan Amerika yang telah banyak memberi perhatian pada studi riset komunikasi, khusunya dalam hal penyebaran inovasi membuat definisi bahwa:
“Komunikasi ialah suatu proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.”
Definisi ini kemudian dikembangkan oleh Rogers bersama D, Lawrence Kincaid (1981) sehingga melahirkan suatu definisi baru yang menyatakan bahwa:
“Komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang dalam.”
Definisi-definisi yang dikemukankan di atas tentunya bulum mewakili semua definisi tentang komunikasi yang telah dibuat oleh bayak pakar, namun sedikit banyaknya kita telah dapat memperoleh gambaran oleh apa yang diungkapkan oleh Shannon dan Weaver (1949) bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi, manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasimengunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi.

Prinsip Komunikasi
            Kita dapat menarik tiga prinsip dasar komunikasi, yakni:
1.      Komunikasi hanya bisa terjadi bila terdapat pertukaran pengalaman yang sama antara pihak-pihak yang terlibat dalam proses komunikasi (sharing similar experiences).
2.      Jika daerah tumpang tindih (the fieid of experiences) menyebar menutupi lingkaran A atau B, menuju  terbentuknya satu lingkaran yang sama, maka makin besar kemungkinannya tercipta suatu proses komunikasi yang mengena (efektif)
3.      Tetapi kalau daerah tumpang tindih ini makin mengecil dan menjauhi sentuhan kedua lingkaran, atau cenderung mengisolasi lingkaran mansing-masing, maka komunikasi yang terjadi sangat terbatas. Bahkan besar kemungkinannya gagal dalam menciptakan suatu proses komunikasi yang efektif.

Unsur-Unsur Komunikasi
            Dari pengertian komunikasi yang yang telah dikemukakan, maka jelas bahwa komunikasi antarmanusia hanya bisa terjadi, jika ada seorang yang menyampaikan pesan kepada orang lain dengan tujuan tertentu.
            Aristoteles ahli filsafat Yunani Kuno dalam bukunya Rhetorica menyebut bahwa suatu proses komunikasi memerlukantiga unsure yang mendukungnya, yakni siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan, dan siapa yang mendengarkan. Hal ini dimengerti, karena  pada zaman Aristoteles retorika menjadi bentuk komunikasi yang sangat popular bagi masyarakat Yunani.
            Claude E. Shannon dan Warren Weaver (1949), dua orang insiyur listrik menyatakan bahwa terjadinya proses komunikasi memerlukan lima unsur yang mendukungnya, yakni pengirim, transmitter, signal, penerima dan tujuan. (mengenai pengiriman pesan melalui radio dan telepon. Tetapi para sarjana yang muncul di belakangnya mencoba menerapkannya dalam proses komunikasi antarmanusia seperti yang dilakukan oleh Miller dan Cherry (Schram; 1971).
            Awal tahun 1960-an David K. Berlo membuat formula komunikasi yang lebih sederhana. Formula itu dikenal dengan nama “SMCR”, yakni: Source (pengirim), Massage (pesan), Channel (saluran-media) dan Receiver (penerima). Selain Shannon dan Berlo, juga tercatat Charles Osgood, Gerald Miller dan Melvin L. de Fleur menambah lagi unsure efek dan umpan balik (feedback) sebagai pelengkap dalam membangun komunikasi yang sempurna.
            Perkembangan terakhir adalah munculnya pandangan dari Joseph de Vito, K. Sereno dan Enka Vora yang menilai factor lingkungan merupakan unsur yang tidak kalah pentingnya dalam mendukung terjadinya proses komunikasi.

TIPE KOMUNIKASI
            Joseph A DeVito seorang profesor komunikasi di Citi University of  New York dalam bukunya Communicology (1982) membagi komunikasi menjadi empat macam, yakni komunikasi Antarpribadi, Komunikasi Kelompok Kecil, Komunikasi Publik dan Komunikasi Massa.
            R. Wayne Pace dengan teman-temannya dari Brigham Young University dalam bukunya Techniques for effective communication (1979) membagi komunikasi atas tiga tipe, yakni komunikasi dengan diri sendiri, komunikasi antarpribadi dan komunikasi khalayak.
            Beberapa sarjana komunikasi aliran Eropa hanya membagi komunikasi atas dua macam. Yakni Komunikasi Antarpribadi dan Komunikasi Massa. Di Indonesia ada kalangan yang membagi komunikasi atas dua macam, yakni komunikasi massa dan komunikasi sosial.
            Memperhatikan pandangan para paka di atas, maka tipe komunikasi yang akan dibicarakan dalam buku ini dibagi atas empat macam tipe, yakni Komunikasi dengan diri sendiri, Komunikasi Antarpribadi, Komunikasi Public dan Komunikasi Massa.

Komunikasi dengan diri sendiri(Intra Personal Communication)
            Komunikasi dengan diri sendiri adalah proses komunikasi yang terjadi di dalam diri individu, atau dengan kata lain proses berkomunikasi dengan diri sendiri.
Dalam proses pengambilan keputusan, seringkali seseorang dihadapkan  pada pilihan ya atau tidak. Keadaan semacam ini membawa seseorang pada situasi berkomunikasi dengan diri sendiri, terutama dalam mempertimbangkan untung ruginya suatu keputusan yang akan diambil. Cara ini hanya bisa dilakukan dengan metode komunikasi intra personal atau komunikasi dengan diri sendiri.
            Studi tentang komunikasi dalam diri sendiri (intra personal communication) kurang begitu banyak mendapat perhatian, kecuali dari kalangan yang brminat dalam bidang psikologi behavioritik. Karena itu literature yang membicarakan tentang komunikasi intra personal bisa dikatakan sangat langkah ditemukan.

Komunikasi Antarpribadi (Inter personal Communication)
            Komunikasi antarpribadi yang dimaksud disini adalah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka, seperti yang dinyatakan R. Wayne Pace (1979) bahwa “Inter personal communication is communication involving two or more people in a face to face  setting” menurut sifatnya komunikasi antarpribadi  dapat dibedakan atas dua macam, yakni komunikasi Diadik (Dyadic Communication) dan komunikasi kelompok kecil (Small Group Communication).
            Komunikasi Diadik ialah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang dalam situasi tatap muka. Komunikasi Diadik menurut Pace dapat dilakukan dalam tiga bentuk, yakni percakapan, dialog dan wawancara. Percakapan berlangsung dalam suasana yang bersahabat dan informal. Dialog berlangsung dalam situasi yang lebih intim, lebih dalam dan lebih personal, sedangkan wawancara sifatnya lebih serius, yakni adanya pihak yang dominan pada posisi bertanya dan yang lainnya  pada posisi menjawab.
            Komunikasi kelompok kecil ialah proses komunikasi yang berlangsung antara  tiga orang  atau lebih secara tatap muka, dimana anggota-anggotanya saling berinteraksi satu sama lainnya. Tidak ada batas yang menentukan secara tegas berepa besar jumlah anggota suatu kelompok kecil. Biasanya antar dua sampai tiga orang, bahkan ada yang mengembangkan sampai dua puluh samapi tiga puluh orang, tetapi tidak lebih dari lima puluh orang.
            Menurut Everett M. Rogers, proses komunikasi yang menggunakan telepon kurang kena bila digolongkan sebagai komunikasi masssa atau komunikasi antar pribadi. Tetapi sarjana komunikasi Amerika lainnya Mc-Croskey memasukkan peralatan komunikasi yang menggunakan gelombang  udara dan cahaya seperti halnya telepon sebagai saluran komunikasi antar pribadi.
            Sebb itu muncullah kelompok yang lebih senang memkai istilah komunikasi antar pribadi beralat ( memakai media mekanik ) dan komunikasi antar pribadi yang tidak beralat ( berlangsung secara tatap muka ).

Komunikasi Publik ( Public Comunication )
            Komunikasi Publik biasa disebut komunikasi pidato, komunikasi kolektif, komunikasi retorika, public speaking dan komunikasi khayalak ( Audience communication).
Dalam komunikasi publik penyampaian pesan berlangsung secara kontinu. Dapat didefenisikan siapa yang berbicara ( sumber ) dan siapa pendengarnya. Interaksi antara sumber dan penerima sangat terbatas, sehingga tanggapan balik juga terbatas. Hal ini disebabkan karena waktu yang digunakan sangat terbatas, dan jumlah khayalak relative banyak. Sumber seringkali tidak dapat mengidentifikasi satu persatu pendengar. Tipe komunikasi public biasanya ditemui dalam berbagai aktifitas seperti kuliah umum, khotbah, rapat akbar, penghargaan, ceramah, dan semacamnya.



Komunikasi Massa ( Mass Communication )
            Terdapat berbagai macam pendapat tentang pengertian komunikasi masssa. Ada yang menilai segmen khayalaknya, dari segi medianya, dan ada pula dari sifat pesannya. Komunikasi Massa dapat didefenisikan sebagi berikut sebagai proses komunikasi yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khayalak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat mekanik seperti radio, televise, surat kabar dan film.
            Pesan komunikasi masssa berlangsung satu arah dan tanggapan baliknya lambat (tertunda) dan sangat terbatas. Tetapi dengan perkembangan teknologi komunikasi yang begitu cepat, khususnya media masssa elektronik seperti radio dan televisi maka umpan balik dari khayalak dapat dilakukan dengan cepat kepada penyiar. Selain itu, sifat penyebaran pesan melalui media massa berlangsung begitu cepat, serempak dan luas. Ia mampu mengatasi jarak dan waktu, serta tahan lama bila didokumentasikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar