Senin, 26 Oktober 2015

Drama 3 babak

Skenario tiga babak adalah jenis skenario yang paling banyak digunakan dalam konstruksi cerita film modern, termasuk film-film Hollywood juga mengadopsi  struktur drama tiga babak yang dicetus oleh filusuf Aristoteles ini.
Drama  yang baik adalah seperti kehidupan kita; yaitu anak-dewasa-tua dan seperti kehidupaan alam ada pagi-siang-sore/malam. (Aristoles)
Konstruksi Film Menggunakan Skenario Tiga Babak
Struktur skenario tiga babak merupakan satu jenis pola bercerita, yang dipakai  untuk menyusun kontruksi dramatik dalam tiga bagian cerita. Menurut Wells Root dalam Writing the script cerita yang baik ibarat sebuah sungai yang menyeret perahu sang protagonist ke arah air terjun. Proses sampainya tokoh utama ke air terjun atau puncak konflik ini terbagi dalam tiga babak, yaitu babak pertama yang berisi opening/introducing, babak kedua yang berisi inti cerita (puncak konflik), dan babak ke tiga yang berisi penyelesaian masalah yang dihadapi oleh tokoh utama/ending.
Aplikasi Teori Skenario Tiga Babak
Secara teori teknik menulis skenario tiga babak tersebut bisa dibagi dengan jumlah scene dan perkiraan durasi perbabaknya, ini akan lebih memudahkan bagi penulis pemula dalam membuat skenario . Namun bagi penulis professional mereka tidak terlalu memikirkan hal ini, kecakapan dan jam terbang dalam menulis membuat hal ini secara otomatis dilakukan. Secara rinci pembagian cerita dalam tiga babak ini sebagai berikut:

BABAK I/opening/Introducing
Babak pertama ini kira-kira berdurasi sekitar 10-20 menit pertama. Fungsi dari babak pertama ini diantaranya:
Memperkenalkan tokoh utama, sehingga penonton mengetahui siapa tokoh protagonist dan antagonis dalam cerita tersebut.
Memperlihatkan masalah utama yang dihadapi protagonist dan risikonya jika sang protagonist tidak mampu menghadapi problem tersebut.
Element terpenting dalam babak pertama ini adanya POIN OF ATTACK yang digagas oleh William Miller dalam bukunya “Screenwriting for Narrative Film and Television.” Secara singkat dapat dijelaskan bahwa POA adalah titik dimana cerita itu bergulir, dari sinilah penonton akan terseret mengikuti alur cerita tanpa bisa melepaskan diri lagi.
BABAK II atau Tengah
Babak kedua merupakan babak dimana cerita berkembang, problem-problem yang dihadapi tokoh utama (protgonis) terus ditingkatkan tensinya, yang membuat tangga dramatik terus menanjak. Hal inilah inti dari film yang dinikmati penonton. Untuk membuat cerita menjadi lebih menarik setidaknya ada tiga hal yang perlu dimasukan dalam babak ini:
Curiosity: rasa penasaran (seperti apakah endingnya nanti?)
Suspense: ketegangan, ketegangan ini dapat dibangun dengan memasukan unsur-unsur dramatik.
Surprise: kejutan, sesuatu yang tidak duga oleh penonton.
BABAK III/akhir/ending/
Babak ketiga merupakan bakbak terakhir dari sebuah cerita. Di sinilah akan diketahui hasil dari perjuangan tokoh dalam menyelesaikan problem yang dihadapi. Babak terakhir ini ibarat selesainya sebuah tugas. Dimana penyelesaian semua problem yang dihadapi oleh tokoh protagonis, apakah ia berhasil mengatasinya masalahnya ataukah gagal dan berakhir dengan tragis.   Ada beberapa pilihan ending yang bisa digunakan penulis skenario untuk mengakhiri ceritanya. Happy Ending, Sad Ending/Unhappy Ending, atau Open Ended Ending. Dari ketiga jenis ending ini happy ending  menjadi pilihan yang paling sering digunakan dalam film. Happy ending juga merupakan jenis ending yang disukai oleh penonton.
Babak 1: Setup
- Pengenalan
Alias opening alias pembukaan. Di babak ini semua pemeran utama dari cerita dikenalin ke pembaca atau penonton. Kita bakal kenalan dengan dunia si protagonis dan juga dengan konflik yang bakal bikin cerita berlanjut. Di sini penulis bisa bebas bikin setting yang dia mau. Misalnya mau bikin setting tempatnya kayak Narnia, tapi untuk masuk ke sana bukan lewat lemari, melainkan lewat toilet. Di babak pertama ini juga genre ceritanya bakal ditentukan. Di awal film, kita diperkenalkan dengan karakter Rose dan Jack sebagai protagonis dan bahwa film ini bakal bergenre romantis. Dan Cal, tunangannya Rose, adalah antagonis karena dia suka nge-bully. Kita juga tahu kalau Leonardo DiCaprio itu cakep. Eh...

- Inciting incident
Biar gampang, disebut II aja. II ini adalah penanda. Yang terjadi sebelum II cuma cerita pendukung aja, sementara yang terjadi sesudahnya baru cerita utamanya. II adalah kejadian yang bikin protagonis kita merasa tertantang untuk melakukan sesuatu. Di Titanic, II-nya adalah ketika Jack bertemu dengan Rose. Mereka berasal dari dunia dan kelas sosial yang berbeda. Pertemuan mereka mengawali kisah cinta yang tragis.

*main suling dengan nada lagu My Heart Will Go On*

- Plot point 1
Setelah II, ada juga plot point 1 atau first plot point (FPP) di mana peristiwa besar lainnya bakal terjadi. Peristiwa ini bakal bikin hidup si protagonis jadi jungkir balik, sekaligus jadi dorongan yang lebih besar lagi untuk protagonis kita untuk mulai beraksi. Jadi, kalau setelah II dia merasa tertantang, kejadian di plot point 1 lah yang bakal bikin dia benar-benar beraksi. Yang jadi FPP di Titanic adalah waktu Rose mau bunuh diri dengan cara loncat dari kapal. Jack yang tadinya cuma mengagumi dari jauh, kali ini nggak tinggal diam dan langsung beraksi membujuk Rose. Sejak itu, rasa cemburunya Cal terhadap Jack muncul dan Rose jadi makin tertarik ke Jack.

Babak 2: Confrontation
Dalam struktur tiga babak, babak kedua adalah babak terpanjang karena porsinya setengah dari cerita. Buat penulis, babak ini bisa jadi yang paling sulit. Semua yang perlu dikenalin ke pembaca udah disuguhkan di babak pertama, sementara penulis harus menjaga supaya ceritanya nggak membosankan. Yang pasti, masalah yang dialami protagonis semakin meningkat. Di babak ini juga, semuanya kayak nggak berjalan lancar. Misalnya kalau sejak awal antagonisnya disembunyiin, di sini bakal jadi momen identiasnya diungkapkan. Di poin ini, karakter utama kita akan mempertanyakan kemampuannya sendiri dan bahkan udah pengin banget menyerah. Lanjut ke contoh.

- Turning point
Terus ada juga turning point. Di sini karakter utama kita udah punya rencana untuk nyelesain masalah yang dihadapi. Turning point di Titanic adalah ketika Rose meminta Jack untuk menggambar dirinya. Iya, adegan yang seksi itu... Rose yang tadinya masih denial soal perasaannya ke Jack udah ngerasa yakin, makanya dia minta Jack menggambarnya.

Gambar aku, Bang...

- Plot point 2
Atau second plot point. Di sini, karakter yang baik dan jahat ketemu dalam sebuah konfrontasi. Cuma satu yang bisa menang. Di Titanic, poin ini terjadi ketika Cal mencoba memisahkan Rose dan Jack, dan menuduh Jack telah mencuri kalung berharganya. Rose harus mencoba apa yang dia bisa untuk lari dari Cal, padahal saat itu dia tejebak di sekoci, sementara Jack diborgol di salah satu kamar. Kapal semakin tenggelam pula.

Babak 3: Resolution
Dalam babak ketiga, konfrontasi finalnya terjadi. Protagonis kita akan berhadapan langsung dengan masalah utamanya. Tentunya nggak akan mudah. Dia akan menghadapi banyak banget rintangan, tapi sudah terlalu jauh untuk kembali. Si karakter utama nggak punya pilihan lain selain untuk menghadapinya. Di klimaks, bakal terjadi konfrontasi antara yang baik dan yang jahat. Karakter baiknya bakal nyelesain masalahnya dengan dramatis dan dia bakal jadi ‘juara.’

- Klimaks
Di Titanic yang jadi klimaks adalah ketika Rose loncat dari sekoci untuk bersatu lagi dengan Jack. Cal mengejar mereka dan bahkan berusaha menembak dengan pistol dan akhirnya menyerah karena amunisinya habis. Karena ini cerita romantis, Jack sebagai protagonis kita berhasil ‘memenangkan’ Rose, dari Cal, si antagonis. Tapi nggak berarti ceritanya bisa berakhir dengan bahagia. Karena setelah berhasil mendapatkan hati Rose, Jack berkorban dan akhirnya tewas karena kedinginan di laut (hiks) sementara Rose hidup sampai usia tua. Semua kejadian ini membuat Rose berubah, beda banget sama Rose yang kita lihat di awal film.


Jadi kesimpulannya, rumus membuat cerita itu adalah:
Seseorang, menginginkan sesuatu, namun dia bertemu sebuah rintangan. Setelah dia menghadapi rintangan itu, si tokoh ini jadi orang yang baru. Atau setidaknya, ada bagian dari dirinya yang berubah karena hal-hal yang dia hadapi di sepanjang cerita. Paham?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar