Rabu, 28 Oktober 2015

Proses dan Komponen Komunikasi


Proses dan Komponen Komunikasi
Proses Komunikasi Massa
            Proses merupakan suatu peristiwa  yang berlangsung secara kontinyu. Dalam operasionalnya proses memerlukan berbagai komponen yaitu bagian-bagian terpenting  dan mutlak harus ada pada suatu keseluruhan atau kesatuan. Schram mengatakan bahwa untuk berlangsungnya suatu kegiatan komunikasi minimal diperlukan tiga komponen yaitu sumber, pesan dan audiens. Sementara itu Harold D. Laswell mengatakan bahwa untuk terjadinya proses komunikasi setidaknya diperlukan lima komponen, yaitu;



a.    Who sebagai komunikator yaitu orang yang menyampaikan pesan dalam proses komunikasi massa (perorangan atau lembaga)
b.    Say What atau Pesan yaitu pernyataan berupa ide, informasi, opini atau sikap.
c.    In Which Channel atau saluran berupa media komunikasi massa yang digunakan untuk menyebar/ mengirim pesan komunikasi massa
d.     To whom atau audiens sebagai sasaran komunikasi
e.    With what effect atau hasil dari kegiatan komunikasi massa. Efek dapat diketahui dari feedback yang diberikan oleh komunikator.

Komponen Komunikasi
Komponen komunikasi massa pada dasarnya  sama dengan  komponen komunikasi secara umum. Komponen komunikasi secara umum diungkapkan oleh Harold D. Lasswell dalam definisi yang diungkapkannya; who-says what in which channel-to whom-with what effect. Komponen komunikasi massa pun secara tersurat diungkapkan oleh De Vito ketika mendefinisikan komunikasi komunikasi massa  dapat didefinisikan dengan memusatkan perhatian pada lima variable yang terkandung dalam setiap tindak komunikasi dan memperlihatkan bagaimana variable-variabel ini bekerja pada media massa. Sumber atau komunikator massa adalah suatu organisasi kompleks yang mengeluarkan biaya besar untuk menyusun dan mengirimkan pesan. Audiens  adalah khalayak dalam jumlah yang tidak terduga atau sangat banyak. Pesanmerupakan milik umum yang disampaikan secara cepat. Proses antara dua arah (melalui seleksi) dan satu arah. Konteks yaitu bahwa  komunikasi massa berlangsung dalam suatu konteks social, terjadi hubungan transaksional antara media dan  dan masyarakat. (Devito, 1997: 505).
Menurut Nurudin (2007), perbedaaan komunikasi massa  dengan komunikasi  pada umumnya  lebih berdasarkan pada jumlah pesan berlipat-lipat yang sampai pada penerima. Kadang mereka menerimanya secara serentak, langsung sebagaimana yang dilakukan oleh televise, di waktu yang lain mereka menerimanya secara individu seperti dalam film atau bahkan puluhan abad seperti dalam Al-Qur’an atau buku. Namun secara substansi perbedaannya terletak pada penggunaan media atau saluran.
Membahas komponen-komponen komunikasi massa ada baiknya kita merujuk kembali definisi komunikasi massa yang dikemukakan oleh George Gerbner seperti dikutif oleh Jalaluddin Rakhmat (1988:188),”Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta  paling luas dimiliki orang  dalam masyarakat industry. Sementara Hiebert, Ungurait, dan Bohn mengemukakan bahwa komponen-komponen komunikasi massa meliputi adalah komunikator, kode dan isi, gatekeeper, media, regulator, filters, audience dan feedback.
Merujuk pada beberapa definisi di atas setidaknya terdapat beberapa komponen untuk komunikasi massa yaitu; komunikator, isi, audience, umpan balik, gangguan, (saluran dan semantik), gatekeeper, pengatur, filter, dan efek. Komponen komunikasi massa yang diungkapkan oleh para ilmuwan komunikasi secara substantif memiliki kesamaan, hanya terdapat komponen tambahan yang tidak terlalu signifikan dalam proses komunikasi massa. Di samping itu untuk menghindari kebingungan istilah, komponen komunikasi kadang diistilahkan secara berbeda misalnya untuk komunikator diistilahkan juga sebagai sumber (source), encoder. Beberapa istilah untuk komunikator tersebut kadang penggunaannya dapat secara terpisah atau untuk menyebutkan hal yang sama yaitu komunikator. Istilah penerima pesan diistilahkan juga sebagai audience, komunikan, pendengar, pemirsa, penonton atau pembaca. Sementara saluran dapat berupa televisi, radio, surat kabar, buku, film, kaset/ CD, atau internet. Isi merupakan pesan.
1.    Komunikator.
Komunikator  dalam komunikasi massa meliputi jaringan yang terdiri dari berbagai komponen di dalamnya; Pimpinan redaksi, Redaktur pelaksana, editor, penulis, pembaca berita, copywriter. Komunikator dalam hal ini tergantung dari institusi media apakah elektronik atau cetak. Dengan demikian komunikator dalam komunikasi massa bukan individu tetapi sekumpulan orang yang bekerja sama satu sama lain. Kumpulan individu tersebut dapat berupa organisasi, lembaga, institusi atau jaringan media. Apa yang dilakukan oleh komunikator  dalam komunikasi massa mengatasnamakan lembaga bukan atas nama individu.
Komunikator dalam komunikasi massa  memiliki karakteristik sebagai berikut seperti dinyatakan oleh Hiebert, Ungurait dan Bohn (HUB); a. daya saing (competitivenes); b. ukuran dan kompleksitas (size & complexity); c. Industrialisasi (industrialization); d. spesialisasi (specialization); dan  e. perwakilan (representation); f.costliness


2.    Isi dan kode
Setiap institusi media memiliki kekhasan masing-masing dalam mengelola isi medianya. Isi media yang disajikan menyangkut individu dan kelompok social. Bagi Hiebert, isi media setidak-tidaknya bisa dibagi ke dalam lima kategori; a. berita dan informasi; b. analisis dan interpretasi; c. pendidikan dan sosialisasi; d. hubungan masyarakat dan persuasi; e. iklan dan bentuk penjualan lain dan f. hiburan.
Sementara kode berkaitan dengan symbol yang digunakan untuk menyampaikan isi media tersebut (pesan komunikasi). Kode dapat berupa tulisan, kata-kata lisan, foto, music, film, gambar karikatur.

3.    Komunikan/ audiens
Komunikan dalam komunikasi massa sangat beragam, dari jutaan penonton televise, ribuan pembaca buku, majalah, Koran atau jurnal ilmiah. Mereka berbeda satu sama lain. Menurut Hiebert audience dalam komunikasi massa memiliki karakteristik;
a.    Audiens cenderung berisi individu-individu yang condong untuk berbagi pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan social di antara mereka. Individu-individu tersebut memilih produk media yang mereka gunakan berdasarkan seleksi kesadaran.
b.    Audiens cenderung besar yaitu bahwa audiens tersebar ke berbagai wilayah jangkauan sasaran komunikasi massa. Meskipun begitu, ukuran luas ini sifatnya bisa jadi relative.
c.    Audiens cenderung heterogen. Mereka berasal dari kategori lapisan dan kategori social. Beberapa media memiliki sasaran tetapi heterogenitasnya tetap ada.
d.    Audiens cenderung anonym, yakni tidak dikenal atau satu sama lain tidak saling mengenal.
e.    Audiens secara fisik dipisahkan dari komunikator.
f.      Audiens cenderung tersebar, baik dalam konteks ruang maupun waktu.

4.    Umpan Balik
Komunikasi dalam arti interaksi ataupun transaki mensyaratkan adanya umpan balik. Proses komunikasi belum lengkap apabila audiens tidak memberikan  respons atau tanggapan kepada komunikator terhadap pesan yang disampaikannya. Dalam komunikasi massa, respon tidak terlihat secara langsung oleh komunikator. Agar responnya dapat sampai, audiens harus memberikan feedback  atau umpan balik.
Ada dua umpan balik dalam komunikasi massa yakni umpan balik langsung (immediate feedback) dan tidak langsung (delayed feedback). Umpan balik langsung terjadi jika komunikator dan komunikan berhadapan langsung atau ada kemungkinan bisa berbicara langsung seperti dalam komunikasi antarpersona. Dalam komunikasi massa umpan balik biasanya tertunda/ tidak langsung (delayed). Umpan balik tidak langsung ini misalnya ketika seorang audience mengirimkan surat pembaca atau menelepon redaksi.
Selain feedback langsung dan tidak langsung, umpan balik dibedakan pula atasinternal feedback dan external feedback. Internal feed terjadi misalnya ketika seorang komunikator sadar atas kesalahan yang telah dilakukannya tanpa harus menunggu respon dari audience. Sedangkan external feedback diterima dari audiens yang memiliki karakteristik; representative, indirect, delayed, cumulative, institutionalized.  (Ardianto, 2007;48).

5.    Gangguan.
Ganggunan komunikasi selalu ada. Secara garis besar dibagi menjadi dua bentuk yakni gangguan saluran dan gangguan semantic. Gangguan saluran dalam media cetak dapat berupa kesalahan cetak, kata yang hilang, atau paragraf yang dihilangkan. Dalam media eletronik dapat berupa suara yang terputus, gambar yang tidak jelas, gangguan sinyal dan lain sebagainya. Sedangkan gangguan semantic dapat berupa gangguan yang berkaitan dengan bahasa. Gangguan semantic bisa diakibatkan oleh komunikator atau pun komunikan itu sendiri. Gangguan semantic berkaitan dengan makna yang diinterpretasikan oleh audiens.
6.    Gatekeeper
Gatekeeper dapat diistilahkan sebagai individu-individu atau sekelompok orang yang memantau arus informasi dalam sebuah saluran komunikasi massa. (John R. Bittner, 1996). Ia merupakan orang yang berperan penting dalam media massa seperti reporter, editor (Nuruddin, 2007:125), redaktur, direktur. Fungsi gatekeeper adalah mengevaluasi  isi media agar sesuai dengan kebutuhan khalayaknya.
7.    Regulator
Institusi media memiliki kepentingan yang saling terkait dengan pihak lain. Ia sekaligus sebagai mitra dan sumber berita, dapat berupa masyarakat luas atau institusi baik swasta atau pemerintah. Peran Regulator  hampir sama dengan gatekeeper, namun regulator bisa bekerja di luar institusi media yang menghasilkan berita. Regulator bisa menghentikan aliran berita dan menghapus suatu informasi, tapi ia tidak dapat menambah atau memulai informasi. Bentuk regulator seperti halnya sensor.
Ada lima macam regulator pada proses komunikasi massa (Ardianto, 2007:39), yaitu;
a.    Pemerintah adalah regulator utama, meskipun undang-undang menjamin kebebasan pers.
b.    Sumber informasi juga bisa mempengaruhi arus berita, dengan cara menahan yang satu dan memberikan yang lain.
c.    Pengiklan
d.    Organisasi profesi.
e.    Konsumen komunikasi massa pun dapat menjadi regulator dengan cara mengontrol pembelian seperti halnya kasus playboy.
f.      Selain 5 point yang disebutkan diatas, satu hal yang memiliki fungsi regulator adalah Undang-undang Pers berserta undang-undang turunannya sebagai produk dari berbagai komponen yang berkepentingan.
8.    Filter
Filter merupakan kerangka pikir audiens yang kemudian digunakan untuk menyaring pesan yang diterimanya. Filter dalam komunikasi masa dapat berupa norma budaya, psikologi dan secara fisik.
           
Walaupun pada dasarnya memiliki substansi yang sama dalam komunikasi secara umum, komponen komunikasi massa memiliki jaringan yang cukup kompleks karena berkaitan dengan institusi interna eksternal beserta sejumlah kepentingan juga berkaitan kepentingan khalayak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar